Warga berkumpul di depan gerbang pabrik, bersiaga mengantisipasi keluarnya kendaraan pengangkut limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari dalam area perusahaan. Kekhawatiran atas pengelolaan limbah menjadi salah satu titik sensitif dalam aksi tersebut.
Kabupaten Serang ; Aksi spontan warga di kawasan industri Cikande, Kamis, 23 April 2026, berubah menjadi sorotan ketika puluhan warga mendatangi pabrik PT. Mowilex Indonesia (Plant Cikande). Isu lama yang belum menemukan titik temu—rekrutmen tenaga kerja lokal dan pengelolaan limbah B3, kembali memicu ketegangan.
Sekitar 30 warga dari Desa Nambo Udik, Kecamatan Cikande, dan Desa Babakan, Kecamatan Bandung, berkumpul sejak sore hari. Mereka menilai tidak ada tindak lanjut konkret dari hasil pertemuan sebelumnya dengan pihak perusahaan.
Aksi dimulai sekitar pukul 15.30 WIB, ketika warga mendatangi area pabrik untuk menyampaikan aspirasi secara langsung. Namun, hingga petang, tuntutan belum mendapat respons yang dianggap memadai. Upaya mediasi awal yang dilakukan perwakilan pengelola limbah dari PT. Wastec International pada pukul 17.30 WIB pun belum membuahkan hasil.
Memasuki pukul 18.30 WIB, situasi mulai menghangat. Warga berkumpul di depan gerbang pabrik, bersiaga mengantisipasi keluarnya kendaraan pengangkut limbah bahan berbahaya dan beracun (B3) dari dalam area perusahaan. Kekhawatiran atas pengelolaan limbah menjadi salah satu titik sensitif dalam aksi tersebut.
Aparat dari Polres Serang bersama jajaran Polsek segera turun tangan. Pengamanan dilakukan untuk mencegah eskalasi, sekaligus membuka ruang dialog antara warga dan pihak perusahaan. Pendekatan yang dipilih bukan represif, melainkan persuasif, mengawal jalannya komunikasi di tengah situasi yang berpotensi memanas.
Mediasi baru benar-benar berlangsung pada pukul 22.20 WIB. Dalam pertemuan tersebut, pihak perusahaan akhirnya mengambil langkah sementara: menunda pengeluaran empat kendaraan pengangkut limbah B3 dari area pabrik. Selain itu, manajemen berkomitmen membawa seluruh tuntutan warga ke tingkat pusat dan menyampaikan hasilnya kembali kepada perwakilan masyarakat.
Keputusan itu menjadi titik balik. Warga yang sebelumnya bertahan di depan gerbang mulai melunak. Tanpa insiden, mereka membubarkan diri secara tertib menjelang pukul 23.00 WIB.
Kapolres Serang AKBP Dr. Andri Kurniawan melalui Kabag Ops Kompol Eddi Susanto menegaskan, kehadiran polisi dalam situasi tersebut bertujuan menjaga stabilitas sekaligus menjembatani komunikasi.
“Kami memastikan keamanan tetap terjaga dan memfasilitasi dialog antara masyarakat dan pihak perusahaan,” ujarnya.
Polisi juga mengimbau agar setiap aksi penyampaian pendapat dilakukan sesuai prosedur, termasuk pemberitahuan terlebih dahulu kepada aparat, guna menghindari potensi gangguan keamanan.
Hingga malam berakhir, kawasan industri Cikande kembali tenang. Namun, substansi persoalan, dari akses kerja hingga pengelolaan limbah, masih menunggu jawaban yang lebih dari sekadar janji.












