Daerah

Tradisi Wiwit Tembakau di Lereng Sumbing, Doa Petani Mengawali Musim Tanam 2026

×

Tradisi Wiwit Tembakau di Lereng Sumbing, Doa Petani Mengawali Musim Tanam 2026

Sebarkan artikel ini
Tradisi Wiwit Tembakau di Lereng Sumbing, Doa Petani Mengawali Musim Tanam 2026

Tradisi Wiwit juga mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya lokal. Lereng Sumbing yang subur menjadi ruang hidup sekaligus sumber penghidupan, yang harus dijaga keseimbangannya.

Kab. Temanggung, Volunteer news ; Pagi di lereng Gunung Sumbing terasa berbeda. Di tengah hamparan ladang tembakau yang mulai disiapkan, sejumlah petani di Desa Wonosari, Kecamatan Bulu, Kabupaten Temanggung, menggelar tradisi Wiwit Tanam Tembakau, Jumat (24/4/2026).

Berbagai sesaji ditata rapi di atas tikar sederhana. Hasil bumi, makanan tradisional, hingga aneka simbol doa disusun sebagai bagian dari ritual selamatan yang telah diwariskan turun-temurun. Tradisi ini menjadi penanda dimulainya musim tanam tembakau tahun 2026.

Bagi para petani, Wiwit bukan sekadar seremoni. Ia adalah bentuk ikhtiar spiritual, permohonan kepada Tuhan Yang Maha Esa agar proses menanam hingga panen kelak berjalan lancar. Di tengah ketidakpastian cuaca dan fluktuasi harga komoditas, doa menjadi bagian tak terpisahkan dari kerja di ladang.

Prosesi berlangsung khidmat. Doa dipanjatkan bersama, diiringi harapan akan musim tanam yang membawa keberkahan. Setelah itu, para petani mulai menapaki fase awal penanaman, seolah menegaskan bahwa kerja keras selalu berjalan berdampingan dengan keyakinan.

Tradisi Wiwit juga mencerminkan hubungan erat antara manusia, alam, dan budaya lokal. Lereng Sumbing yang subur menjadi ruang hidup sekaligus sumber penghidupan, yang harus dijaga keseimbangannya. Nilai-nilai ini terus dipertahankan di tengah perubahan zaman dan modernisasi sektor pertanian.

Di Temanggung, tembakau bukan sekadar komoditas ekonomi, tetapi juga bagian dari identitas kultural masyarakat. Setiap musim tanam selalu diawali dengan harapan, bahwa cuaca bersahabat, tanaman tumbuh optimal, dan hasil panen mampu menopang kehidupan.

Momentum Wiwit menjadi pengingat bahwa pertanian tidak hanya soal produksi, tetapi juga tradisi dan kepercayaan yang mengakar. Dari lereng Sumbing, para petani kembali menegaskan: menanam bukan sekadar bekerja, melainkan merawat harapan yang dititipkan pada tanah.