Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposwil) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Aceh, Safrizal ZA, mendampingi Ketua Satgas PRR yang juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratiko, dalam penyerahan bantuan stimulan perbaikan rumah rusak akibat bencana hidrometeorologi Siklon Senyar Tahap II di Kabupaten Aceh Tamiang, Selasa (21/4/2026).
Kabupaten Aceh Tamiang ; Pemerintah pusat mulai mengakselerasi pemulihan pascabencana hidrometeorologi Siklon Senyar yang menghantam Kabupaten Aceh Tamiang. Dengan total 5.947 rumah terdampak, intervensi negara kini memasuki fase percepatan rehabilitasi dan rekonstruksi.
Langkah konkret itu ditandai dengan penyerahan bantuan stimulan perbaikan rumah rusak tahap II, Selasa (21/4/2026). Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) yang juga Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, hadir langsung bersama Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno. Keduanya didampingi Kepala Pos Komando Wilayah (Kaposwil) PRR Aceh, Safrizal ZA.
Penyerahan bantuan dilakukan secara simbolis kepada 13 kepala keluarga, disaksikan Wakil Gubernur Aceh dan jajaran pemerintah daerah. Meski simbolis, bantuan ini menjadi representasi dari skala intervensi yang jauh lebih besar, menjangkau ribuan rumah warga yang mengalami kerusakan akibat bencana.
Data pemerintah menunjukkan, dari total 5.947 unit rumah terdampak, sebanyak 2.336 unit mengalami kerusakan ringan, 1.722 unit rusak sedang, dan 1.889 unit rusak berat. Mayoritas kerusakan berada pada kategori ringan, namun tetap membutuhkan penanganan cepat agar tidak berkembang menjadi persoalan sosial yang lebih luas.
Empat kecamatan menjadi fokus utama distribusi bantuan, yakni Rantau, Karang Baru, Bandar Pusaka, dan Bendahara. Kecamatan Rantau tercatat sebagai wilayah dengan jumlah penerima bantuan terbanyak, mencerminkan tingkat dampak yang paling signifikan dibanding wilayah lainnya.
Safrizal ZA menegaskan bahwa percepatan penyaluran bantuan bukan sekadar respons administratif, melainkan bentuk kehadiran negara yang nyata di tengah masyarakat terdampak. Ia menyebut, bantuan stimulan ini diharapkan mampu mendorong pemulihan tidak hanya secara fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi.
“Bantuan ini adalah bagian dari komitmen bersama agar masyarakat dapat segera bangkit dan kembali menjalankan aktivitasnya secara normal,” ujarnya.
Selain bantuan perbaikan rumah, pemerintah juga menyerahkan lima unit fire pump kepada Pemerintah Kabupaten Aceh Tamiang. Dukungan ini diarahkan untuk memperkuat upaya pemulihan lingkungan dan mitigasi risiko, yang dilaksanakan bersama Praja Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN).
Pendekatan yang dilakukan pemerintah kali ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memperhatikan aspek ketahanan wilayah. Kolaborasi lintas kementerian dan pemerintah daerah menjadi kunci dalam memastikan proses rehabilitasi berjalan efektif dan tepat sasaran.
Usai rangkaian kegiatan, rombongan Satgas PRR menggelar ramah tamah bersama Praja IPDN dan masyarakat setempat. Kunjungan kerja kemudian dilanjutkan ke Kota Medan sebagai bagian dari agenda koordinasi lanjutan percepatan pemulihan.
Di tengah sisa-sisa dampak bencana, Aceh Tamiang kini bergerak menuju fase baru: pemulihan cepat. Dengan intervensi yang terukur dan pengawalan langsung dari pemerintah pusat, harapan untuk bangkit tidak lagi sekadar wacana—melainkan proses yang sedang berlangsung.












