Hukum dan Kriminal

Dengkuran Tiga Kali di Kontrakan Panongan: Pria 64 Tahun Tewas Mendadak, Riwayat Jantung Terungkap

×

Dengkuran Tiga Kali di Kontrakan Panongan: Pria 64 Tahun Tewas Mendadak, Riwayat Jantung Terungkap

Sebarkan artikel ini
Dengkuran Tiga Kali di Kontrakan Panongan: Pria 64 Tahun Tewas Mendadak, Riwayat Jantung Terungkap

Personel Polsek Panongan datang ke lokasi sehari kemudian, Minggu, 19 April 2026, untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. 

Kabupaten Tangerang ; Sore itu di Kampung Cipari, Desa Ciakar, Kecamatan Panongan, Kabupaten Tangerang, suasana kontrakan yang biasanya lengang mendadak berubah tegang. Seorang pria lanjut usia, berinisial DM (64), tergeletak tak sadarkan diri setelah mengeluhkan sesak napas. Dalam hitungan menit, hidupnya berakhir.

Personel Polsek Panongan datang ke lokasi sehari kemudian, Minggu, 19 April 2026, untuk melakukan olah tempat kejadian perkara. Namun jejak peristiwa itu sudah lebih dulu tertinggal dalam ingatan para saksi, tentang detik-detik terakhir yang singkat sekaligus mencekam.

Kapolsek Panongan, Iptu Irruandy Aritonang, mengatakan korban datang seorang diri pada Sabtu sore, 18 April 2026. Ia mengendarai sepeda motor, berniat bertamu seperti biasa. Tak ada tanda-tanda mencurigakan sebelumnya.

Namun, di dalam kontrakan, situasi berubah cepat. Korban mengeluh kelelahan disertai sesak napas. Tak lama kemudian, tubuhnya melemah. Napasnya tersengal, lalu terdengar dengkuran keras, tiga kali, sebelum akhirnya ia tak lagi merespons.

Upaya pertolongan darurat sempat dilakukan oleh warga. Minyak kayu putih didekatkan ke hidung korban, berharap kesadarannya kembali. Tapi harapan itu pupus. Nyawa tak tertolong.

Tak lama berselang, keluarga korban tiba di lokasi. Tanpa menunggu lama, jenazah langsung dibawa pulang untuk dimakamkan. Polisi memastikan tidak ada tanda-tanda kekerasan dalam peristiwa tersebut.

Menurut Aritonang, keterangan keluarga mengungkap kondisi kesehatan korban sebelumnya. Dalam beberapa waktu terakhir, DM kerap mengeluhkan sesak napas. Ia juga memiliki riwayat penyakit jantung, namun tidak menjalani pengobatan secara rutin.

Peristiwa ini, bagi keluarga, adalah musibah. Mereka menerima kepergian korban tanpa tuntutan lebih lanjut.

Di balik kejadian yang tampak sederhana itu, terselip pengingat yang sering diabaikan: penyakit yang datang diam-diam, dan kelalaian kecil yang berujung fatal. Di sebuah kontrakan sunyi di Panongan, tiga dengkuran menjadi penanda akhir sebuah kehidupan.