Daerah

Menapak 40 Kilometer, Warga Badui Serahkan Hasil Bumi dan Pesan Lestari ke Pendopo Lebak

×

Menapak 40 Kilometer, Warga Badui Serahkan Hasil Bumi dan Pesan Lestari ke Pendopo Lebak

Sebarkan artikel ini
Menapak 40 Kilometer, Warga Badui Serahkan Hasil Bumi dan Pesan Lestari ke Pendopo Lebak

Sekitar 1.500 warga Suku Badui, terdiri dari komunitas Badui Dalam dan Badui Luar, menapaki perjalanan sejauh kurang lebih 40 kilometer menuju Pendopo Bupati Lebak di Rangkasbitung, Jumat (24/4/2026).

Banten, Volunteer news ; Langkah kaki itu berjalan tenang, nyaris tanpa suara. Namun maknanya menggema jauh melampaui jarak yang ditempuh. Sekitar 1.500 warga Suku Badui, terdiri dari komunitas Badui Dalam dan Badui Luar, menapaki perjalanan sejauh kurang lebih 40 kilometer menuju Pendopo Bupati Lebak di Rangkasbitung, Jumat (24/4/2026).

Perjalanan panjang tersebut bukan sekadar tradisi, melainkan wujud konsistensi menjaga hubungan antara manusia, alam, dan pemimpin daerah. Dalam balutan pakaian adat yang sederhana, mereka membawa hasil bumi sebagai simbol rasa syukur atas keberlangsungan hidup yang tetap terjaga di tengah perubahan zaman.

Setibanya di pendopo, rombongan warga Badui menyerahkan hasil bumi kepada pemerintah daerah. Penyerahan ini bukan hanya bentuk penghormatan, tetapi juga pesan simbolik tentang pentingnya menjaga keseimbangan alam yang selama ini menjadi prinsip hidup masyarakat Badui.

Bagi komunitas Badui, alam bukan sekadar sumber penghidupan, melainkan bagian tak terpisahkan dari identitas. Hutan, sungai, dan tanah adalah ruang hidup yang harus dijaga, bukan dieksploitasi. Karena itu, perjalanan ini sekaligus menjadi pengingat bagi pemerintah dan masyarakat luas akan pentingnya pelestarian lingkungan.

Tradisi tahunan ini juga mencerminkan cara masyarakat adat menyampaikan aspirasi, tanpa demonstrasi, tanpa suara keras, tetapi melalui tindakan yang sarat makna. Pesan yang dibawa sederhana namun tegas: pembangunan harus berjalan seiring dengan kelestarian alam.

Di tengah arus modernisasi yang terus bergerak cepat, langkah warga Badui menjadi kontras yang menenangkan. Mereka memilih berjalan kaki, menjaga tradisi, dan merawat nilai-nilai yang telah diwariskan turun-temurun.

Momentum ini sekaligus menjadi refleksi bagi semua pihak, bahwa keberlanjutan lingkungan tidak hanya bergantung pada kebijakan, tetapi juga pada kesadaran kolektif. Dari pedalaman Lebak, pesan itu kembali ditegaskan, bahwa harmoni dengan alam bukan pilihan, melainkan keharusan.