Nasional

Ancaman Banjir Rp5,6 Triliun, Kemen PU Percepat Proyek Raksasa Cijurey dan Cibeet

×

Ancaman Banjir Rp5,6 Triliun, Kemen PU Percepat Proyek Raksasa Cijurey dan Cibeet

Sebarkan artikel ini
Ancaman Banjir Rp5,6 Triliun, Kemen PU Percepat Proyek Raksasa Cijurey dan Cibeet

Pembangunan Bendungan Cijurey dan Bendungan Cibeet. Jawa Barat.

Jakarta ; Pemerintah melalui Kementerian Pekerjaan Umum (Kemen PU) mempercepat pembangunan Bendungan Cijurey dan Bendungan Cibeet sebagai langkah strategis menghadapi ancaman kerugian banjir yang terus membayangi wilayah hilir Daerah Aliran Sungai Citarum, khususnya di Kabupaten Karawang dan Kabupaten Bekasi.

Dalam kurun tujuh tahun terakhir, total kerugian akibat banjir di kawasan tersebut tercatat mencapai Rp5,6 triliun atau rata-rata sekitar Rp800 miliar per tahun. Angka ini tidak hanya mencerminkan besarnya dampak ekonomi, tetapi juga menunjukkan urgensi penanganan banjir secara sistematis dan berkelanjutan.

Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menegaskan percepatan proyek bendungan menjadi prioritas guna menekan risiko banjir berulang yang selama ini mengganggu aktivitas masyarakat dan kawasan industri strategis nasional.

Jika tidak segera diselesaikan, potensi banjir di Karawang dan Bekasi akan terus berulang. Karena itu, kami targetkan pembangunan bisa rampung pada 2027–2028,” ujarnya dalam keterangan resmi, Rabu (15/4/2026).

Bendungan Cijurey yang berlokasi di Kabupaten Bogor menjadi salah satu infrastruktur kunci dengan kapasitas tampung mencapai 14,37 juta meter kubik. Bendungan ini dirancang mampu mereduksi banjir hingga 59,33 persen atau setara 172,94 meter kubik per detik, sekaligus mendukung sistem irigasi seluas 2.047 hektare di wilayah Cariu, Sukamakmur, dan Tanjungsari.

Hingga 10 April 2026, progres fisik Bendungan Cijurey telah mencapai 37,20 persen dengan realisasi keuangan sebesar 32,84 persen—menunjukkan percepatan konstruksi yang terus berjalan di lapangan.

Sementara itu, Bendungan Cibeet diproyeksikan menjadi tulang punggung pengendalian banjir di hilir Citarum. Dengan kapasitas tampung mencapai 83,28 juta meter kubik, bendungan ini mampu mereduksi debit banjir hingga 297,97 meter kubik per detik dan melindungi kawasan terdampak seluas 5.822 hektare.

Lebih dari sekadar pengendali banjir, Bendungan Cibeet juga memiliki fungsi strategis dalam memperkuat ketahanan air, energi, dan pangan. Proyek ini akan mendukung layanan Daerah Irigasi Tarum Barat seluas 7.800 hektare serta membuka potensi pengembangan irigasi baru sekitar 1.036,97 hektare di Jawa Barat.

Namun demikian, percepatan proyek tidak lepas dari tantangan, terutama dalam pembebasan lahan. Hingga April 2026, realisasi pembebasan lahan Bendungan Cibeet baru mencapai sekitar 7,9 persen dari total kebutuhan 1.700,26 hektare.

Kemen PU menegaskan akan terus mengintensifkan koordinasi lintas sektor, termasuk dengan pemerintah daerah dan pemangku kepentingan, guna mempercepat proses pembebasan lahan tanpa mengabaikan aspek sosial dan hukum.

Penyelesaian Bendungan Cijurey dan Cibeet menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam membangun sistem pengendalian banjir terpadu di DAS Citarum. Kedua bendungan ini juga akan terintegrasi dengan infrastruktur lain, termasuk Bendungan Cipamingkis, untuk menciptakan perlindungan menyeluruh bagi kawasan rawan banjir.

Jika terealisasi sesuai target, proyek ini diproyeksikan mampu mereduksi banjir hingga 80 persen untuk periode ulang lima tahunan, sekaligus menekan potensi kerugian ekonomi hingga Rp16 triliun dalam 25 tahun mendatang.

Di tengah meningkatnya tekanan perubahan iklim dan pertumbuhan kawasan industri di Karawang-Bekasi, percepatan pembangunan bendungan bukan lagi sekadar proyek infrastruktur, melainkan investasi jangka panjang untuk menjaga stabilitas ekonomi dan keselamatan jutaan warga di wilayah hilir Citarum.