Kesehatan

Dua Juta Anak Tanpa Imunisasi: Alarm KLB Kian Nyaring

×

Dua Juta Anak Tanpa Imunisasi: Alarm KLB Kian Nyaring

Sebarkan artikel ini
Dua Juta Anak Tanpa Imunisasi: Alarm KLB Kian Nyaring

Peringatan itu disampaikan Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi, dalam Temu Jurnalis Pekan Imunisasi Sedunia bertajuk “Imunisasi Kuat, Generasi Selamat” di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Jakarta ; Di tengah upaya memperkuat sistem kesehatan nasional, sebuah fakta mengemuka dengan nada mengkhawatirkan: lebih dari dua juta anak di Indonesia belum pernah menerima imunisasi sama sekali. Mereka dikenal sebagai kelompok zero dose, sebuah celah besar dalam perlindungan kesehatan yang berpotensi memicu Kejadian Luar Biasa (KLB) penyakit menular.

Peringatan itu disampaikan Ketua Satuan Tugas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, Hartono Gunardi, dalam Temu Jurnalis Pekan Imunisasi Sedunia bertajuk “Imunisasi Kuat, Generasi Selamat” di Jakarta, Kamis, 23 April 2026.

Zero dose children adalah anak-anak yang sama sekali belum memiliki perlindungan imunisasi. Ini sangat rentan. Artinya, kita hidup berdampingan dengan potensi KLB,” ujar Hartono.

Celah yang Membesar

Dalam epidemiologi, satu kasus bisa berarti banyak. Terlebih di wilayah dengan cakupan imunisasi rendah, di mana kekebalan kelompok belum terbentuk. Hartono mengingatkan, satu anak yang terinfeksi dapat menjadi titik awal penyebaran luas, bahkan sebelum gejala muncul.

Penyakit seperti campak kembali disebut sebagai ancaman nyata. Penularannya yang cepat menjadikannya indikator sensitif terhadap lemahnya cakupan imunisasi. Bahkan, kasus pada tenaga kesehatan yang tertular saat menangani pasien anak menunjukkan bahwa perlindungan yang tidak diperbarui juga menyimpan risiko.

Tak hanya itu, influenza, yang kerap dianggap ringan, disebut tetap berpotensi dicegah melalui vaksinasi rutin tahunan. Dalam konteks ini, imunisasi bukan sekadar kewajiban masa kanak-kanak, melainkan kebutuhan sepanjang siklus hidup.

Anak-anak, remaja, hingga orang dewasa tetap membutuhkan imunisasi untuk menjaga dan memperkuat kekebalan tubuh,” kata Hartono.

Antara Persepsi dan Risiko Nyata

Salah satu tantangan terbesar, menurut IDAI, adalah persepsi publik yang masih menempatkan imunisasi sebagai urusan bayi dan balita semata. Ketika jadwal terlewat atau tidak dilengkapi, risiko tidak serta-merta terlihat, hingga akhirnya muncul dalam bentuk lonjakan kasus.

Padahal, dalam komunitas dengan banyak anak zero dose, kondisi ini ibarat bara dalam sekam. Satu percikan kecil dapat memicu penyebaran yang sulit dikendalikan.

Ibaratnya seperti bermain api. Percikan kecil saja bisa memicu kebakaran besar,” ujar Hartono.

Investasi yang Terlambat Disadari

Di tengah dinamika kebijakan kesehatan dan tantangan distribusi layanan, imunisasi kerap menjadi program yang dianggap rutin, bukan prioritas mendesak. Namun, data zero dose menunjukkan sebaliknya: masih ada kesenjangan besar yang perlu segera ditutup.

Hartono menegaskan, imunisasi sepanjang hayat adalah investasi kesehatan yang tidak hanya melindungi individu, tetapi juga membangun kekebalan kolektif. Tanpa itu, masyarakat akan terus berada dalam siklus kerentanan terhadap penyakit menular.

Ini bukan hanya soal individu. Ini soal perlindungan bersama,” katanya.

Di tengah angka dua juta anak tanpa imunisasi, alarm itu kini terdengar semakin nyaring. Pertanyaannya bukan lagi apakah KLB bisa terjadi, melainkan kapan dan di mana celah itu akan terbuka.