Mentan Andi Amran Sulaiman saat menjadi narasumber pada Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah bagi Ketua DPRD seluruh Indonesia di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Magelang, Jawa Tengah, Kamis (16/4/2026).
Magelang ; Di tengah bayang-bayang krisis global yang kian kompleks, isu pangan kembali menjadi garis depan. Dari forum strategis di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Magelang, Jawa Tengah, Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman melontarkan pesan tegas: Indonesia tak bisa lagi berjalan sendiri-sendiri dalam urusan pangan.
“Kolaborasi adalah kunci. Tanpa sinergi pusat dan daerah, target besar seperti swasembada dan kemandirian pangan tidak akan tercapai optimal,” kata Amran dalam Kursus Pemantapan Pimpinan Daerah bagi Ketua DPRD se-Indonesia, Kamis, 16 April 2026.
Pernyataan itu bukan sekadar pengingat, melainkan peringatan dini. Dunia, menurut Amran, sedang menghadapi tekanan simultan: krisis pangan, energi, dan air. Dalam situasi itu, Indonesia dituntut memperkuat fondasi dari daerah,bukan hanya sebagai pelaksana, tetapi sebagai motor utama produksi.
Peran Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) pun disebut krusial. Dari meja legislasi hingga pengawasan anggaran, arah kebijakan daerah sangat menentukan nasib petani dan ketahanan pangan lokal. “Bagaimana anggaran diarahkan, bagaimana kebijakan daerah mendukung petani, itu sangat menentukan,” ujar Amran.
Kementerian Pertanian mendorong pendekatan desentralisasi produksi pangan, sebuah strategi yang menempatkan setiap daerah sebagai pusat produksi mandiri. Selama ini, ketergantungan distribusi antarwilayah dinilai membebani biaya logistik. Mengirim beras dari satu pulau ke pulau lain bukan hanya mahal, tetapi juga rentan terhadap gangguan rantai pasok.
“Setiap daerah harus kuat dan mandiri. Kalau tidak, kita akan terus terbebani biaya distribusi,” katanya.
Namun agenda pemerintah tak berhenti di pangan. Sektor energi ikut diseret dalam strategi besar ini. Pemerintah menargetkan penghentian impor solar sekitar 5 juta ton mulai 1 Juli 2026 melalui penguatan bioenergi. Bioetanol pun didorong sebagai alternatif pengganti bensin, langkah yang mengaitkan langsung sektor pertanian dengan kemandirian energi nasional.
“Ini bukan hanya soal pangan, tapi juga energi. Daerah harus ikut berperan,” kata Amran.
Di atas kertas, potensi Indonesia terbilang besar. Stok pangan nasional saat ini mencapai 4,8 juta ton, dengan sekitar 160 juta petani terlibat dalam sektor pertanian. Bahkan, produk beras Indonesia telah menembus pasar global dan menjangkau 33 negara.
Namun angka-angka itu, tanpa koordinasi, bisa menjadi potensi yang tak tergarap optimal.
Dari Magelang, pesan itu disampaikan dengan nada yang jelas: masa depan pangan Indonesia tak hanya ditentukan oleh kebijakan pusat, tetapi oleh sejauh mana daerah mampu bergerak seirama. Sebab, dalam lanskap krisis global, kemandirian bukan lagi pilihan, melainkan keharusan.
“Tidak ada yang bisa bekerja sendiri,” ujar Amran.“Kalau pusat dan daerah bergerak bersama, kita bukan hanya mandiri, tapi bisa menjadi kekuatan pangan dunia.”












