Kabupaten Tangerang ; Proyek normalisasi saluran pembuangan di Kabupaten Tangerang kembali menjadi perhatian publik. Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air (DBMSDA) Kabupaten Tangerang terus menggenjot berbagai kegiatan antisipasi banjir, termasuk normalisasi Saluran Pembuang Cikronjo. Pekerjaan ini dilaksanakan melalui skema Pengadaan Langsung (PL) DBMSDA dengan anggaran Rp198,451,000 yang bersumber dari APBD Perubahan (APBD-P) Tahun 2025.
Kegiatan normalisasi tersebut sejatinya mencakup pengerukan sedimentasi lumpur, pengangkatan sampah, serta perbaikan agar kapasitas saluran dapat bekerja optimal saat musim hujan. Namun, kenyataan di lapangan justru menimbulkan sorotan. Sejumlah warga menilai pekerjaan tampak diduga tidak maksimal, terutama terkait minimnya pengerukan lumpur serta masih berserakannya sampah di sepanjang saluran.
Juanda, warga setempat menyampaikan apresiasinya atas upaya pemerintah daerah dalam mengantisipasi potensi banjir. Namun, ia menilai pelaksanaan proyek diduga belum memenuhi standar teknis sebagaimana mestinya.
“Kami mengapresiasi perhatian pemerintah kabupaten Tangerang dalam upaya mengantisipasi banjir lewat proyek normalisasi saluran pembuang Cikronjo ini. Namun kami sangat menyayangkan pengerjaannya yang diduga asal-asalan. Pengerukan sedimentasi lumpur sangat minim dan sampah masih banyak berceceran di area saluran,” ujarnya kepada Volunteernews.co.id, Senin (17/11/2025).
Dampak Buruk Minimnya Pengerukan Sedimentasi Lumpur
Minimnya pengerukan sedimentasi lumpur pada saluran pembuang dapat menimbulkan sejumlah dampak negatif, baik jangka pendek maupun jangka panjang, di antaranya:
1. Penurunan Kapasitas Saluran
Endapan lumpur yang tidak dibersihkan akan mempersempit volume saluran, sehingga kapasitas aliran air berkurang drastis. Kondisi ini meningkatkan risiko luapan ketika debit air meningkat pada musim hujan.
2. Banjir Lokal Berulang
Saluran yang tersumbat oleh lumpur dan sampah menjadi penyebab utama banjir lokal. Air tidak dapat mengalir lancar ke hilir dan akhirnya meluap ke permukiman warga.
3. Kerusakan Infrastruktur Sekitar
Genangan air yang terjadi berulang dapat mempercepat kerusakan jalan, turap, hingga fasilitas umum lainnya di sekitar kawasan.
4. Menurunnya Kualitas Lingkungan
Sampah yang tidak diangkat menimbulkan bau tak sedap dan berpotensi menjadi sumber penyakit. Lumpur yang menumpuk juga meningkatkan pertumbuhan lumut, nyamuk, dan organisme penyebab masalah lingkungan lainnya.
5. Meningkatnya Biaya Perbaikan di Masa Depan
Proyek yang tidak dikerjakan secara tuntas berpotensi menimbulkan biaya tambahan di kemudian hari, karena pemerintah harus mengulangi pengerukan dalam waktu lebih cepat.
Hingga berita ini diterbitkan, pihak kontraktor pelaksana CV. Hilda Putri maupun instansi terkait dari DBMSDA Kabupaten Tangerang belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan tanggapan terkait keluhan warga dan dugaan pekerjaan yang tidak sesuai spesifikasi teknis.
Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi awal yang diperoleh dari sumber lapangan. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.












