Nasional

Tersenyum di Tengah Bencana: Kisah Pemulihan Anak-anak Pengungsi Lubuk Minturun

×

Tersenyum di Tengah Bencana: Kisah Pemulihan Anak-anak Pengungsi Lubuk Minturun

Sebarkan artikel ini
Tersenyum di Tengah Bencana: Kisah Pemulihan Anak-anak Pengungsi Lubuk Minturun

Kegiatan Mobil Dukungan Psikososial Komdigi di Kampung Apa, Kecamatan Lubuk Minturun, Kota Padang.

Kota Padang ; Puing-puing bangunan masih berserakan di Kampung Apa, Kecamatan Lubuk Minturun, Kota Padang, Sumatra Barat. Bekas lumpur dan retakan tanah menjadi saksi bisu banjir dan longsor yang mengubah wajah kampung itu. Duka belum sepenuhnya sirna. Namun, di tengah sunyi pascabencana, tawa anak-anak tiba-tiba mengalir, ringan dan jujur, memecah kesedihan yang menggantung.

Suara riang itu datang dari area posko pengungsian. Sejumlah anak berlarian, tertawa, dan saling menyemangati. Keceriaan tersebut hadir seiring kedatangan Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) bersama organisasi nirlaba Save the Children. Bagi anak-anak pengungsi, mobil layanan itu menjelma ruang aman sementara, tempat mereka kembali menjadi anak-anak, setelah hari-hari yang diwarnai rasa takut dan ketidakpastian.

Sekitar 100 anak mengikuti layanan dukungan psikososial yang digelar di posko pengungsian Kampung Apa. Sejak sesi pertama dimulai, antusiasme tampak jelas. Senyum merekah, mata berbinar, dan tubuh-tubuh kecil itu bergerak lincah mengikuti arahan fasilitator, seolah melupakan sejenak kisah kelam yang mereka alami.

Sesi gim ceria menjadi pembuka. Anak-anak diajak bergerak mengikuti instruksi sederhana. Ketika ada yang salah langkah, tawa pun pecah. Tak ada raut kecewa bagi mereka yang tersingkir dari permainan. Justru, mereka duduk di pinggir, bertepuk tangan, dan memberi semangat kepada teman-temannya, sebuah potret kecil tentang empati yang tumbuh alami.

Kegiatan berlanjut dengan sesi mewarnai. Di atas kertas sketsa, anak-anak menumpahkan imajinasi dan perasaan melalui warna. Ada yang memilih warna cerah penuh keberanian, ada pula yang mengombinasikan berbagai warna dengan hati-hati. Beberapa anak tampak ragu, lalu bertanya kepada fasilitator tentang pilihan warna yang tepat. Dialog sederhana pun tercipta, mengajarkan keberanian bertanya, mengambil keputusan, dan mengekspresikan diri.

Puncak kegiatan diisi dengan sesi mendongeng bertema kepedulian lingkungan. Pendongeng Maia Janitra membawa anak-anak memasuki kisah Kiko, seekor kelinci yang tinggal di Hutan Digital. Sejak awal cerita, anak-anak diajak terlibat aktif, menyebutkan tokoh-tokoh penghuni hutan seperti gajah, burung, singa, dan badak. Diskusi kecil pun mengalir, membahas peran pohon dan hutan bagi kehidupan.

Anak-anak diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bukan sekadar cerita, tetapi berkaitan langsung dengan kehidupan mereka, termasuk mencegah banjir dan longsor,” ujar Maia, Kamis (18/12/2025).

Cerita kemudian beranjak pada kebiasaan Kiko yang terlalu sering bermain gawai. Ia lupa bermain bersama teman-temannya, lupa menikmati alam, bahkan mengabaikan makanan kesukaannya. Hingga suatu hari, badai melanda Hutan Digital. Hujan deras dan angin kencang memicu banjir dan longsor. Dalam situasi genting itu, Kiko tersesat—terlalu asyik menatap layar hingga tak menyadari bahaya di sekitarnya.

Beruntung, teman-temannya datang menolong. Mereka bekerja sama, saling membantu, dan akhirnya menyelamatkan Kiko. Dari peristiwa itu, Kiko belajar bahwa penggunaan gawai berlebihan membuatnya kehilangan banyak hal berharga: kebersamaan, kepedulian, dan kepekaan terhadap lingkungan.

Pesan moral tersebut tak berhenti di akhir cerita. Anak-anak diajak menyampaikan kembali nilai-nilai yang mereka tangkap. Jawaban demi jawaban muncul—tentang pentingnya saling menolong, menjaga alam, hingga membatasi waktu bermain gawai.

Muhammad Charlie Van Houten (13) mengaku cerita tersebut membuatnya berpikir ulang soal kebiasaan menggunakan telepon seluler.

Jangan sering main handphone. Saya paling lama main tiga jam. Biasanya akses TikTok dan main gim daring,” katanya polos.

Sementara Siti Alia (14) menyoroti dampak gawai berlebihan terhadap kesehatan mata. Baginya, mata adalah organ penting untuk meraih cita-cita.

Kalau mata tidak sehat, kita susah belajar. Jadi jangan sering main handphone,” ujarnya. Saat ini, gawai milik Siti disimpan orang tuanya dan hanya diberikan pada waktu tertentu, kebijakan yang diakuinya membantu lebih fokus pada kegiatan lain.

Upaya edukasi melalui layanan dukungan psikososial ini sejalan dengan terbitnya Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Pelindungan Anak (PP Tunas). Regulasi ini bertujuan menciptakan ruang digital yang aman bagi anak melalui penyaringan konten, mekanisme pelaporan yang mudah, serta penanganan cepat terhadap potensi pelanggaran.

Di tengah puing dan luka pascabencana, dongeng tentang Kiko menjadi pengingat bahwa pemulihan anak tidak semata soal kebutuhan fisik. Lebih dari itu, anak-anak membutuhkan ruang aman, kehangatan, dan pendampingan, agar mereka kembali percaya diri menatap masa depan, baik di dunia nyata maupun di ruang digital.