Nasional

Tekan Hujan Ekstrem, Pemerintah Intensifkan Modifikasi Cuaca di Aceh

×

Tekan Hujan Ekstrem, Pemerintah Intensifkan Modifikasi Cuaca di Aceh

Sebarkan artikel ini

Ilustrasi. BMKG melanjutkan operasi modifikasi cuaca di Sumut, Aceh, dan Sumbar hingga 3 Desember untuk menekan curah hujan

Jakarta ; Pemerintah mengintensifkan operasi modifikasi cuaca sebagai bagian dari strategi utama penanganan banjir dan longsor di Aceh. Upaya ini diarahkan untuk menekan potensi hujan ekstrem lanjutan agar proses evakuasi, pemulihan akses jalan, serta pembangunan hunian sementara dapat berlangsung tanpa kembali terganggu faktor cuaca.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (Pusdatin BNPB) Abdul Muhari menyatakan bahwa operasi modifikasi cuaca dilaksanakan secara terpadu bersama Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) sejak fase tanggap darurat hingga memasuki masa transisi pemulihan.

Modifikasi cuaca menjadi instrumen penting agar pekerjaan di lapangan, mulai dari pencarian korban, pembersihan material longsor, hingga perbaikan infrastruktur, tidak kembali terhambat hujan lebat,” ujar Abdul Muhari dalam pemaparan perkembangan penanganan bencana, Selasa (23/12/2025).

Operasi modifikasi cuaca di Aceh menjadi bagian dari pengerahan armada terbesar yang pernah dilakukan dalam satu hamparan wilayah bencana. Di provinsi tersebut, empat pesawat dikerahkan untuk menurunkan intensitas hujan dan mengendalikan sebaran awan hujan. Secara regional, operasi ini juga mencakup wilayah Sumatra Utara dan Sumatra Barat guna menekan risiko hujan ekstrem yang meluas.

BNPB menegaskan, operasi pengendalian cuaca akan terus dilakukan hingga fase transisi darurat berakhir, terutama sampai pemulihan akses jalan utama dan pembangunan hunian sementara berada pada tahap yang relatif aman dari gangguan cuaca ekstrem.

Pengendalian curah hujan menjadi krusial bagi Aceh, khususnya wilayah tengah seperti Kabupaten Aceh Tengah dan Bener Meriah, yang sebelumnya mengalami keterbatasan akses akibat longsor dan banjir. Dengan intensitas hujan yang lebih terkendali, pembersihan material longsor, penanganan badan jalan, serta perbaikan jembatan dapat dilakukan lebih cepat dan efektif.

Sejumlah jembatan di jalur penghubung Bireuen–Bener Meriah telah kembali fungsional. Pemerintah menargetkan sebagian besar ruas jalan dan jembatan di Aceh dapat dilalui kendaraan roda dua dan roda empat sebelum akhir Desember, sehingga arus logistik, mobilisasi alat berat, dan penyaluran bantuan kemanusiaan berjalan lancar.

BMKG secara berkala memberikan pembaruan prakiraan cuaca dan peringatan dini kepada BNPB serta pemerintah daerah sebagai dasar pengambilan keputusan di lapangan. Informasi ini menjadi semakin penting menjelang periode Natal dan awal tahun yang secara klimatologis berpotensi diiringi peningkatan curah hujan.

Selama potensi cuaca ekstrem masih ada, operasi modifikasi cuaca akan tetap menjadi bagian dari strategi nasional untuk memastikan pemulihan Aceh berjalan cepat, aman, dan berkelanjutan,” tegas Abdul Muhari.

Dengan kombinasi pengendalian cuaca, percepatan pemulihan infrastruktur, dan penguatan layanan kemanusiaan, pemerintah optimistis penanganan bencana di Aceh dapat memasuki fase pemulihan yang lebih stabil, terukur, dan berorientasi pada keselamatan masyarakat