Daerah

Retak Dini Betonisasi Jalan Raya Pagenjahan–Kresek, Warga Soroti Kualitas Proyek dan Minta Audit Teknis

×

Retak Dini Betonisasi Jalan Raya Pagenjahan–Kresek, Warga Soroti Kualitas Proyek dan Minta Audit Teknis

Sebarkan artikel ini
Retak Dini Betonisasi Jalan Pagenjahan–Kresek, Warga Soroti Kualitas Proyek dan Minta Audit Teknis

Proyek baru hitungan bulan sudah menunjukkan kerusakan di belasan titik, memicu kekhawatiran masyarakat terhadap mutu konstruksi dan pengawasan pelaksanaan.

Kabupaten Tangerang ; Proyek pembangunan betonisasi Jalan Raya Pagenjahan–Kresek di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten, yang baru selesai dikerjakan dalam beberapa bulan terakhir, mulai menuai sorotan masyarakat. Kondisi jalan yang seharusnya masih dalam fase optimal justru menunjukkan keretakan dan patahan konstruksi di sejumlah titik.

Retak Dini Betonisasi Jalan Pagenjahan–Kresek, Warga Soroti Kualitas Proyek dan Minta Audit Teknis

Berdasarkan pantauan lapangan Volunteer News.co.id, sedikitnya terdapat sekitar 16 titik keretakan yang tersebar di sepanjang ruas jalan tersebut. Temuan ini memunculkan pertanyaan publik mengenai kualitas pekerjaan, mengingat proyek tersebut bersumber dari anggaran negara dan diharapkan memiliki daya tahan jangka panjang.

Seorang warga sekitar mengungkapkan kekecewaannya terhadap kondisi jalan yang dinilai belum lama digunakan namun sudah mengalami kerusakan awal.

Ini proyek betonisasi Jalan Raya Pagenjahan–Kresek belum lama dikerjakan, namun sudah terlihat adanya keretakan dini,” ujarnya, Jumat (27/2/2026).

Sorotan serupa disampaikan Abdullah, pemerhati pembangunan, yang menilai kerusakan pada tahap awal masa pemanfaatan dapat menjadi indikator adanya persoalan dalam proses konstruksi. Menurutnya, retak dini dapat dipicu oleh sejumlah faktor teknis, mulai dari pengerjaan yang tidak optimal, kurangnya proses perawatan beton (curing), hingga kemungkinan pergerakan tanah dasar.

Hal itu diduga adanya indikasi kelalaian pada saat proses konstruksi,” kata Abdullah.

Secara teknis, keretakan beton pada usia muda dapat terjadi akibat retak susut karena hilangnya kadar air selama proses pengeringan, kualitas campuran beton yang tidak sesuai spesifikasi, maupun metode pelaksanaan yang kurang memperhatikan tahapan perawatan. Selain itu, kondisi tanah dasar yang tidak stabil juga berpotensi memicu deformasi dan mempercepat munculnya retakan.

Masyarakat berharap pihak kontraktor pelaksana bersama instansi terkait segera melakukan evaluasi teknis menyeluruh, termasuk perbaikan pada titik kerusakan serta audit pekerjaan guna memastikan kesesuaian dengan spesifikasi kontrak. Transparansi hasil evaluasi dinilai penting untuk menjaga kepercayaan publik terhadap pembangunan infrastruktur daerah.

Hingga berita ini ditayangkan, pihak kontraktor pelaksana proyek maupun instansi terkait belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan tanggapan resmi terkait temuan keretakan tersebut.