Pariwisata

Pulo Cangkir: Potensi Wisata Religi yang Terabaikan, Harapan PAD Kabupaten Tangerang yang Tertunda

×

Pulo Cangkir: Potensi Wisata Religi yang Terabaikan, Harapan PAD Kabupaten Tangerang yang Tertunda

Sebarkan artikel ini
Tarif Tanpa Dasar : Siapakah Bermain di Balik Pungutan di Objek Wisata Religi Pulo Cangkir, Kronjo?

Dengan pengelolaan yang tepat, Pulo Cangkir berpeluang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) unggulan bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang. 

Kabupaten Tangerang ; Di pesisir utara Banten, tepatnya di Desa Kronjo, Kecamatan Kronjo, berdiri sebuah destinasi yang sarat nilai spiritual sekaligus potensi ekonomi: objek wisata religi Pulo Cangkir. Setiap tahun, terutama pada momentum hari besar Islam seperti Idul Fitri, kawasan ini dipadati peziarah dan wisatawan dari berbagai daerah. Arus kunjungan yang tinggi menjadi indikator nyata bahwa Pulo Cangkir bukan sekadar tempat ziarah, melainkan aset strategis daerah.

Namun di balik keramaian itu, tersimpan ironi. Potensi besar yang dimiliki objek wisata ini belum sepenuhnya dikelola secara profesional dan berkelanjutan. Penataan kawasan, sistem pengelolaan, hingga manajemen pendapatan masih dinilai belum optimal. Padahal, dengan pengelolaan yang tepat, Pulo Cangkir berpeluang menjadi salah satu sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) unggulan bagi Pemerintah Kabupaten Tangerang.

Secara konseptual, pengembangan wisata religi tidak hanya berbicara soal kunjungan, tetapi juga tata kelola yang terintegrasi. Penataan kawasan yang rapi, fasilitas yang memadai, serta sistem tiket dan retribusi yang transparan akan menciptakan ekosistem wisata yang sehat. Dalam konteks ini, peran pemerintah daerah menjadi krusial, baik sebagai regulator maupun fasilitator.

Manfaat besar dari pengelolaan wisata yang baik tidak bisa dipandang sebelah mata.

Pertama, peningkatan PAD dapat digunakan untuk membiayai pembangunan infrastruktur daerah, termasuk akses jalan, fasilitas publik, hingga layanan sosial.

Kedua, pemberdayaan ekonomi masyarakat lokal akan tumbuh secara signifikan. Kehadiran wisatawan membuka peluang usaha, mulai dari kuliner, parkir, jasa pemandu, hingga penjualan cendera mata.

Ketiga, penataan yang baik akan menciptakan lapangan kerja baru dan mengurangi angka pengangguran di wilayah sekitar.

Keempat, pelestarian nilai budaya dan religi juga dapat terjaga melalui pengelolaan yang terarah, sehingga identitas lokal tidak tergerus oleh arus modernisasi.

Lebih jauh, jika dikelola secara profesional, Pulo Cangkir berpotensi menjadi destinasi wisata religi unggulan di Provinsi Banten yang mampu bersaing secara nasional. Hal ini tentu akan berdampak pada peningkatan citra daerah serta menarik investasi di sektor pariwisata.

Sayangnya, hingga kini perhatian dari pemerintah, baik di tingkat Kabupaten Tangerang maupun Pemerintah Desa Kronjo, masih dinilai belum maksimal. Kesan pembiaran terhadap pengelolaan kawasan justru berpotensi menimbulkan persoalan baru, mulai dari ketidakteraturan hingga potensi kebocoran pendapatan.

Momentum untuk berbenah seharusnya tidak lagi ditunda. Pulo Cangkir bukan hanya milik masyarakat Kronjo, tetapi juga aset daerah yang memiliki nilai strategis jangka panjang. Dengan komitmen, sinergi, dan tata kelola yang baik, destinasi ini dapat bertransformasi dari sekadar lokasi ziarah menjadi pusat pertumbuhan ekonomi berbasis wisata religi.

Di tengah tuntutan peningkatan PAD dan kesejahteraan masyarakat, Pulo Cangkir sejatinya adalah peluang yang menunggu untuk diwujudkan, bukan untuk diabaikan.

Penulis: Syam/TimEditor: Wafiq Azizah