Banda Aceh ; Di tengah proses pemulihan pascabanjir yang melanda sejumlah wilayah, Pemerintah Provinsi (Pemprov) Aceh memperkuat penanganan kemanusiaan dengan mengerahkan sekitar 200 relawan ke berbagai titik pengungsian. Langkah ini difokuskan tidak hanya pada pemenuhan kebutuhan dasar, tetapi juga pada pemulihan kondisi psikologis para penyintas, khususnya anak-anak.
Kehadiran para relawan menjadi penguat bagi warga terdampak yang masih berjuang beradaptasi dengan kehidupan di pengungsian. Upaya tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Sosial, termasuk melalui peran Balai Darul Saadah yang terlibat aktif dalam pendampingan lapangan.
Perhatian utama diarahkan pada anak-anak pengungsi yang mengalami terhentinya aktivitas sekolah akibat bencana. Kondisi ini membuat mereka rentan mengalami tekanan emosional dan trauma. Untuk itu, pemerintah menginisiasi berbagai kegiatan Layanan Dukungan Psikososial (LDP) yang dirancang sebagai ruang aman bagi anak-anak untuk belajar, bermain, dan berinteraksi sosial.
Melalui kegiatan tersebut, tawa dan semangat anak-anak diharapkan dapat kembali tumbuh meski berada jauh dari rumah mereka.
“Anak-anak di pengungsian tidak memiliki aktivitas sekolah. Karena itu, kita isi dengan kegiatan LDP agar mereka bisa kembali ceria dan beraktivitas sebagaimana dunia anak-anak,” ujar Pelaksana Tugas Kepala Dinas Sosial Aceh, Chaidir, di Banda Aceh, Rabu (17/12/2025).
Selain pendampingan psikososial, Pemprov Aceh juga memastikan pemenuhan kebutuhan dasar para pengungsi tetap terjaga. Melalui anggaran Belanja Tidak Terduga (BTT), pemerintah menyalurkan bahan pangan pokok seperti beras, minyak goreng, dan kebutuhan logistik lainnya ke dapur umum yang dikelola bersama masyarakat setempat.
Dapur-dapur tersebut menjadi tumpuan utama pengungsi dalam memenuhi kebutuhan makan sehari-hari. Namun, pemerintah memilih pendekatan berbasis komunitas dengan menghidupkan dapur masyarakat, bukan membuka dapur umum baru secara masif.
“Kita tidak membuka banyak dapur umum baru, tetapi menghidupkan dapur masyarakat dengan menyuplai bahan makanan mentah. Insya Allah stoknya cukup,” jelas Chaidir.
Terkait alokasi anggaran BTT untuk operasional dapur umum, Chaidir menyampaikan bahwa pembahasan masih terus berlangsung. Meski demikian, pemerintah memperkirakan ketersediaan logistik dapat mencukupi kebutuhan pengungsi selama satu hingga dua bulan ke depan, seiring dengan mulai terbukanya kembali akses jalan darat menuju wilayah terdampak banjir.
Dalam sepekan terakhir, bantuan logistik dari Kementerian Sosial juga terus berdatangan secara bertahap. Puluhan pengiriman bantuan telah disalurkan ke kabupaten dan kota terdampak, baik melalui jalur darat maupun laut.
Bantuan dari berbagai pihak tersebut menjadi wujud kepedulian bersama sekaligus harapan bagi para penyintas untuk bangkit dan menata kembali kehidupan mereka pascabencana.
“Dengan akses jalan yang semakin lancar, suplai bahan makanan kami perkirakan akan tercukupi, apalagi menjelang bulan puasa. BTT menjadi salah satu instrumen penting untuk menjaga ketersediaan bahan pangan di dapur-dapur pengungsian,” pungkas Chaidir.












