Pariwisata

Potret Anak Yatim di Tengah Geliat Objek Wisata Religi Pulo Cangkir, Kronjo

×

Potret Anak Yatim di Tengah Geliat Objek Wisata Religi Pulo Cangkir, Kronjo

Sebarkan artikel ini
Potret Anak Yatim di Tengah Geliat Objek Wisata Religi Pulo Cangkir, Kronjo

Di tempat ini, doa-doa dilangitkan, harapan dititipkan, dan kotak-kotak amal terisi oleh tangan-tangan yang percaya bahwa memberi adalah jalan menuju kebaikan.

Kabupaten Tangerang ; Pagi baru saja merekah di pesisir Kronjo. Langit masih pucat ketika perahu-perahu kecil bersandar, membawa nelayan yang pulang bersama lelah. Dari kejauhan, langkah-langkah peziarah mulai terdengar, pelan, lalu semakin ramai, menuju kawasan wisata religi Pulo Cangkir. Di tempat ini, doa-doa dilangitkan, harapan dititipkan, dan kotak-kotak amal terisi oleh tangan-tangan yang percaya bahwa memberi adalah jalan menuju kebaikan.

Namun di balik keramaian itu, ada kehidupan yang berjalan dalam diam—nyaris tak tersentuh sorot.

Di sebuah rumah sederhana, seorang anak lelaki duduk termenung di beranda. Usianya masih belasan tahun. Seragam sekolahnya tergantung rapi di sudut ruangan, seolah menjadi simbol harapan yang ia jaga. Sejak ayahnya tiada, ia belajar memahami arti kehilangan lebih cepat dari anak seusianya.

Setiap hari, ia melihat orang-orang datang ke Pulo Cangkir. Ia tahu tempat itu ramai, bahkan menjadi sumber penghidupan bagi banyak orang. Ia juga pernah mendengar, dari cerita yang beredar, bahwa sebagian dari uang yang terkumpul, dari karcis masuk hingga kotak amal, akan diberikan kepada anak-anak yatim seperti dirinya.

Cerita itu sempat membuatnya berharap.

Namun harapan itu perlahan memudar, seperti ombak yang pecah tanpa jejak di bibir pantai.

Saya hanya pernah menerima santunan satu kali,” ucapnya lirih, nyaris tak terdengar. Bantuan itu bukan berasal dari skema yang sering disebut-sebut, melainkan dari inisiatif Gaji pribadi kepala Desa Kronjo. Setelah itu, tak ada lagi. Hanya kabar yang berulang, tanpa pernah benar-benar hadir.

Ia tidak marah. Tidak pula menuntut. Tapi di matanya, tersimpan tanya yang tak terucap.

Kisahnya hanyalah satu dari sekian banyak cerita serupa di Desa Kronjo. Di atas kertas, puluhan anak yatim tercatat sebagai penerima manfaat dari program santunan yang bersumber dari pendapatan karcis masuk objek wisata religi Pulo Cangkir. Disebutkan, 40 persen dari hasil tersebut dialokasikan untuk mereka, disalurkan dua kali dalam setahun, pada bulan Ramadhan dan Muharam.

Sebuah janji yang terdengar hangat. Sebuah angka yang memberi kesan besar.

Namun kenyataan tak selalu seindah narasi.

Tidak semua anak yatim merasakan kehadiran dari bantuan itu. Sebagian hanya menjadi nama dalam daftar, tanpa pernah benar-benar disentuh oleh apa yang dijanjikan. Di tengah ramainya perputaran uang dan derasnya arus peziarah, mereka tetap hidup dalam kesederhanaan, bahkan kekurangan.

Kini, penarikan karcis telah dihentikan setelah aparat kepolisian melakukan penertiban atas dugaan pungutan liar. Sejumlah pihak telah diperiksa, dan pembinaan tengah dilakukan. Namun bagi anak-anak yatim, persoalan ini bukan sekadar soal hukum.

Ini tentang harapan yang sempat tumbuh, lalu perlahan menghilang.

Sementara itu, di area makam Pangeran Jaga Lautan, kotak-kotak amal tetap berdiri. Para peziarah masih datang, menundukkan kepala, lalu menyelipkan uang dengan niat tulus, berharap kebaikan itu sampai kepada yang membutuhkan.

Di sinilah ironi itu terasa begitu dalam.

Di satu sisi, Pulo Cangkir hidup dari kepercayaan dan nilai-nilai religius. Di sisi lain, anak-anak yatim di sekitarnya justru masih menunggu, bukan sekadar bantuan, tetapi kepastian bahwa mereka tidak dilupakan.

Peran muzawir sebagai penjaga makam sekaligus pengelola dana amal pun menjadi sorotan. Amanah yang melekat pada posisi itu bukan hanya soal menjaga tradisi, tetapi juga memastikan bahwa setiap titipan umat benar-benar sampai kepada yang berhak. Ketika transparansi belum hadir sepenuhnya, maka yang tersisa hanyalah ruang tanya, dan perlahan, rasa percaya yang terkikis.

Menjelang siang, kawasan Pulo Cangkir semakin padat. Suara doa bersahutan, langkah kaki berdesakan, dan kehidupan terus bergerak tanpa jeda. Namun di sudut-sudut kampung, anak-anak yatim tetap menjalani hari dengan cara mereka sendiri, belajar di tengah keterbatasan, membantu keluarga, dan sesekali menatap laut, seolah mencari jawaban dari kejauhan.

Mereka tidak meminta banyak.

Hanya ingin diyakinkan bahwa di tengah ramainya ziarah dan derasnya aliran derma, masih ada yang benar-benar mengingat mereka. Bahwa setiap rupiah yang dititipkan dengan niat baik, tidak berhenti di tengah jalan.

Hingga berita ini ditayangkan, para pihak dan instansi terkait belum berhasil dikonfirmasi untuk memberikan tanggapan. Namun bagi anak-anak itu, waktu terus berjalan, dan harapan, betapapun kecilnya, tetap mereka genggam dalam diam.

Catatan redaksi: Berita ini disusun berdasarkan informasi awal yang diperoleh dari sumber lapangan. Redaksi tetap membuka ruang hak jawab dan klarifikasi bagi pihak-pihak yang disebutkan dalam pemberitaan ini sesuai dengan Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers.