Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa pada kelompok bayi, sekitar 6 persen lahir dengan berat badan rendah di bawah 2,5 kilogram. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko stunting dan gangguan tumbuh kembang apabila tidak ditangani sejak dini.
Jakarta ; Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap sejumlah temuan penting dari pelaksanaan program Cek Kesehatan Gratis (CKG) 2025 yang menunjukkan masih tingginya risiko gangguan kesehatan pada berbagai kelompok usia, mulai dari bayi baru lahir hingga lanjut usia. Temuan tersebut menjadi dasar penguatan tata laksana program CKG pada 2026.
Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kemenkes, Maria Endang Sumiwi, menyampaikan bahwa pada kelompok bayi, sekitar 6 persen lahir dengan berat badan rendah di bawah 2,5 kilogram. Kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko stunting dan gangguan tumbuh kembang apabila tidak ditangani sejak dini.
Selain itu, Kemenkes juga menemukan sejumlah kelainan bawaan serius, seperti penyakit jantung bawaan kritis dan kekurangan hormon tiroid. Maria menekankan bahwa skrining dini menjadi kunci utama untuk mencegah dampak jangka panjang terhadap kualitas hidup anak.
“Kekurangan hormon tiroid sangat penting diperiksa karena jika tidak ditangani, bayi dapat mengalami retardasi mental yang berdampak seumur hidup,” ujar Maria di Jakarta, Jumat (23/1/2026).
Ia menambahkan, bayi yang teridentifikasi mengalami gangguan hormon tiroid harus segera mendapatkan pengobatan maksimal dalam waktu satu bulan. Seluruh pembiayaan pengobatan tersebut ditanggung oleh BPJS Kesehatan.
Penguatan Skrining Menuju CKG 2026
Untuk menekan risiko gangguan kesehatan di masa depan, Kemenkes mendorong penguatan skrining sejak tahap pra-kehamilan, termasuk pada calon pengantin. Ibu hamil juga diimbau menghindari paparan asap rokok serta konsumsi alkohol.
Maria menjelaskan, perbedaan utama CKG 2026 dibandingkan tahun sebelumnya terletak pada penguatan tata laksana dan sistem perawatan, khususnya dalam tindak lanjut hasil pemeriksaan.
“Temuan pemeriksaan menunjukkan berbagai masalah kesehatan signifikan di setiap fase kehidupan, mulai dari gangguan pertumbuhan pada bayi hingga ancaman penyakit kronis pada kelompok usia lanjut,” ungkapnya.
Pada kelompok balita dan anak prasekolah usia 1–6 tahun, masalah kesehatan gigi menjadi perhatian utama. Karies gigi ditemukan pada 31 persen anak atau sekitar satu dari tiga anak. Kondisi ini berpotensi memicu infeksi, demam, gangguan tenggorokan, serta menghambat konsentrasi belajar dan pertumbuhan.
Selain itu, lebih dari 10 ribu balita tercatat mengalami berat badan kurang. Orang tua diimbau memberikan makanan beragam yang mengandung protein hewani, seperti telur, ikan, dan daging, serta rutin memantau pertumbuhan anak melalui Posyandu setiap bulan.
Ancaman Penyakit Sejak Usia Muda
Pada kelompok usia sekolah dan remaja, Kemenkes menemukan satu dari lima remaja memiliki tekanan darah di atas normal. Risiko ini meningkat pada remaja dengan kegemukan dan obesitas yang dialami sekitar 7 persen remaja.
Masalah pendengaran juga mulai muncul akibat penggunaan earbud secara berlebihan. Kemenkes menyarankan penggunaan earbud maksimal satu jam per hari dengan volume yang terkontrol. Di sisi lain, anemia masih dialami oleh satu dari empat remaja, terutama siswi kelas 7 dan 10.
Memasuki usia dewasa, obesitas sentral dialami oleh satu dari tiga orang dan meningkatkan risiko penyakit jantung. Data Kemenkes mencatat sekitar 7 juta orang dewasa memiliki tekanan darah di atas normal, serta 100 ribu orang mengalami diabetes dan prediabetes.
Sementara itu, pada kelompok lanjut usia, kondisi kesehatan tercatat lebih mengkhawatirkan. Sebanyak 51 persen lansia memiliki tekanan darah di atas normal, dan 58 persen mengalami masalah kesehatan gigi yang berpotensi memicu infeksi serius.
Kepatuhan Berobat Masih Rendah
Meski berbagai penyakit berhasil terdeteksi melalui program CKG, tingkat kepatuhan masyarakat untuk menjalani pengobatan dan kontrol lanjutan masih tergolong rendah. Dari penderita hipertensi, hanya sekitar sepertiga yang rutin mengonsumsi obat dan melakukan pemeriksaan berkala. Pada penderita diabetes, tingkat keberhasilan pengendalian gula darah masih di bawah 10 persen.
“Kondisi ini menjadi bahan evaluasi utama Kemenkes dalam penyempurnaan layanan kesehatan pada 2026, dengan fokus pada penguatan tindak lanjut hasil pemeriksaan dan perubahan perilaku hidup sehat,” tegas Maria.
Untuk menekan angka penyakit tidak menular, Kemenkes mengimbau masyarakat membatasi konsumsi gula, garam, dan lemak, melakukan pemeriksaan kesehatan rutin minimal setahun sekali, meningkatkan aktivitas fisik, serta patuh mengonsumsi obat sesuai anjuran tenaga kesehatan.
Melalui penguatan program CKG 2026, pemerintah berharap deteksi dini dan penerapan gaya hidup sehat dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat sekaligus menekan risiko penyakit kronis di masa depan.












