Anak-anak peserta kegiatan Mobil Dukungan Psikososial Komdigi di SDIT Mulia yang terletak di Desa Securai, Kecamatan Babalan, Kabupaten Langkat, Sumut, Jumat (19/12/2025).
Kabupaten Langkat ; Kehadiran Mobil Dukungan Psikososial Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) di wilayah terdampak banjir Kabupaten Langkat, Sumatra Utara, menjadi ruang pemulihan yang bermakna bagi anak-anak yang mengalami tekanan psikologis pascabencana. Melalui kolaborasi dengan Pusat Pelayanan Psikologi Pada Masyarakat Universitas Sumatera Utara (P3M USU) dan Save the Children, program ini menghadirkan pendampingan psikologis berbasis aktivitas bermain, bercerita, serta ekspresi emosi anak.
Ketua P3M USU, Fahmi, menjelaskan bahwa dukungan psikososial tersebut dilaksanakan secara bertahap di berbagai titik terdampak banjir di Sumatra Utara. Kabupaten Langkat menjadi salah satu fokus utama karena tingkat dampak banjir yang relatif lebih besar, khususnya di wilayah pedesaan.
“Secara catatan, kami memiliki jadwal sembilan hari di sembilan titik lokasi. Kami pertama kali turun pada 6 dan 7 Desember di Medan Labuhan dan Medan Belawan, lalu berlanjut ke sejumlah lokasi di Kabupaten Langkat,” ujar Fahmi saat ditemui di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) Mulia, Kabupaten Langkat, Jumat (19/12/2025).
Menurut Fahmi, Kemkomdigi telah menyiapkan konsep kegiatan yang ramah anak, mulai dari kendaraan operasional yang atraktif hingga buku bacaan. P3M USU kemudian melengkapi dengan pendekatan psikologis yang disesuaikan dengan kondisi anak-anak di lokasi terdampak.
“Kami masuk untuk mengisi aspek psikologisnya. Anak-anak yang hadir memiliki latar dampak berbeda. Ada yang terdampak langsung karena rumahnya terendam, ada pula yang terdampak tidak langsung akibat terganggunya mata pencaharian orang tua,” jelasnya.
Dalam setiap kegiatan, tim psikolog P3M USU menyisipkan sesi Cek Emosi Anak, yakni ruang aman bagi anak-anak untuk mengekspresikan perasaan mereka, baik kesedihan maupun kebahagiaan, melalui tulisan di sticky notes atau gambar. Fahmi menuturkan, sebagian besar anak tidak memendam kemarahan pada bencana itu sendiri, melainkan pada hilangnya rutinitas sehari-hari.
“Lapangan bermain berubah menjadi lumpur, sepeda terendam, dan aktivitas belajar terganggu. Namun, di sisi lain, mereka tetap memiliki potensi kebahagiaan,” katanya.
Ia menambahkan, kehadiran Mobil Dukungan Psikososial membantu anak-anak memahami bahwa perubahan akibat bencana adalah hal yang wajar.
“Tidak apa-apa merasa sedih atau marah. Anak-anak tetap bisa bahagia dengan ruang bermain baru, orang-orang baru, dan kesempatan baru,” ujarnya.
Dampak Lebih Besar di Wilayah Pedesaan
Fahmi menjelaskan, secara karakteristik, dampak banjir di Kabupaten Langkat lebih besar dibandingkan wilayah perkotaan seperti Medan. Namun demikian, jumlah titik pengungsian relatif lebih sedikit karena kuatnya sistem dukungan keluarga.
“Di Langkat, meskipun banyak rumah terdampak, masyarakat saling menampung di rumah kerabat yang lebih aman. Support system keluarga di sini sangat kuat,” ungkapnya.
Kegiatan Mobil Dukungan Psikososial Komdigi di SDIT Mulia, Desa Securai, Kecamatan Babalan, merupakan lokasi keempat di Kabupaten Langkat, setelah sebelumnya menyambangi sejumlah titik di Kota Medan dan Kabupaten Deli Serdang. Kegiatan ini diikuti oleh 110 murid SDIT dan PAUD Mulia yang terdampak banjir.
Sebanyak empat fasilitator dari P3M USU memandu kegiatan dengan mengajak anak-anak bernyanyi, berjoget, bermain kelompok, mengekspresikan diri melalui tulisan dan gambar, hingga membaca bersama di dalam mobil van Komdigi. Senyum anak-anak tampak mengembang saat kegiatan berakhir, terlebih ketika mereka menerima makanan boks dan bingkisan untuk dibawa pulang. Para orang tua yang mendampingi pun terlihat lega dan bahagia.
Amira Salsabila, siswi SDIT Mulia, mengaku kegiatan tersebut membuatnya kembali ceria.
“Selama mengikuti kegiatan ini, saya merasa senang. Walaupun kemarin rumah saya kebanjiran, tapi dengan adanya acara ini bisa berkumpul dengan teman-teman,” ujarnya.
Apresiasi juga disampaikan Guru SDIT Mulia Securai, Yulia Ningsih. Ia menilai program Mobil Dukungan Psikososial Komdigi memberikan dampak nyata bagi kondisi psikologis anak-anak. “Kami dari pihak sekolah merasa senang karena dilibatkan. Anak-anak menjadi lebih ceria, semangat, dan termotivasi,” katanya.
Yulia menambahkan, perubahan ekspresi anak terlihat jelas setelah mengikuti kegiatan.
“Yang sebelumnya terlihat sedih dan muram, kini senyumnya lebih nampak. Kesenangan dan kebahagiaan mereka terasa,” ujarnya.
Ia berharap program serupa dapat terus berlanjut dan menjangkau lebih banyak sekolah terdampak bencana. Menurutnya, Mobil Dukungan Psikososial Komdigi merupakan bentuk kehadiran negara yang nyata dalam memastikan pemulihan psikologis anak sebagai kelompok rentan pascabencana, sejalan dengan komitmen perlindungan anak dan pembangunan sumber daya manusia yang berkelanjutan di wilayah rawan bencana.












